Jasa Sedot WC Bandung

Dibalik Siraman dalam acara pernikahan adat sunda

Posted by Simawar Enterprise on

Assalamu’alaikum Warrohmatuloh Wabarokatuh
http://www.mawarnada.comMungkin banyak orang beranggapan bahwa kata siraman berasal dari asal kata siram Bahasa Indonesia (Siram-Mencurahkan air), tapi kalau kita telaah lebih jauh bahwa Orang Sunda sering menggunakan kata siram ini.

Contoh “Ngarah teu paraéh, pepelakan téh kudu remen disiram/Agar tidak mati, tumbuhan harus sering disiram), atau dalam bahasa sunda, kata siram adalah bahasa halusnya (Basa lemes) dari Cébor/Nyébor (Nyébor kembang/nyiram kembang/menyiram bunga).

Juga dalam kehidupan orang sunda dikenal kata Nyiram yang artinya Ngidam pada wanita. Jadi menurut saya siraman dalam bahasa Sunda adalah asal katanya dari siram yang berarti ibak/ngebak atau mandi.

Karena orang sunda dulu sering berkata contoh “Panas kieu mah kedah disiram heula ngarah teu hareudang/Panas begini harus mandi dulu agar tidak gerah”. Jadi kita sepakat bahwa Siraman dalam rangkaian Upacara Adat Pernikahan Sunda, adalah Ngebakan/Ngamandian/Memandikan.

Apabila kita cermati dari alat yang digunakan, baik jumlah dan jenisnya. Siraman dalam acara adat pernikahan sunda adalah seni budaya yang diciptakan orang tua dulu (Karuhun/Nenek moyang), yang sangat kental sekali dengan Syiar Islam, seperti jumlah barang yang digunakan harus ganjil.

Bilangan ganjil yaitu suatu bilangan jika dibagi dua maka bersisa 1 (Satu), ini adalah hal yang Allah SWT dan Rasululloh sukai, atau kita sebagai Muslim meyakini Allah SWT itu hanya 1 (Satu) tidak beranak atau diperanakan, Maha Esa atau Tunggal.

Dan Alhamdulillah saat ini biasanya sebelum acara siraman dimulai, sering diawali dengan pengajian bahkan saat siramanpun diiringi Sholawatan, semoga semakin Berkah.

http://www.mawarnada.com

Siraman adalah seni budaya penuh makna dan hikmah jika dilihat dari alat dan isi narasi yang dipergunakan, apalagi jika disampaikan oleh orang sunda yang paham undak unduk basa Sunda (Tata krama bahasa), juga penuh dengan siloka (Nasihat yang disembunyikan maknanya).

Seperti penggunaan bunga tujuh macam (Bunga setaman), kain putih atau samping/sinjang kebat (Sarung wanita) 7 atau 9 helai, penerangan lilin 7 buah (Dahulu menggunakan damar cempor atau lampu tempel), mencuci kaki kedua orang tua, minyak wangi, air yang diambil dari tujuh sumur yang saat ini sering dicampur dengan air zam zam.

Inti dari siraman jika dilihat dari cara dan alat yang dipergunakan adalah membersihkan diri lahir dan bathin dan pembekalan secara spiritual keagamaan kepada calon pengantin wanita, dengan lepasnya tanggung jawab orang tua yang akan digantikan suaminya nanti. Sekaligus menasihati guna perlunya kesiapan dalam mengarungi bahtera rumah tangga.

Bagi orang sunda apabila diresapi isi narasi dan makna Seni Upacara Adat Siraman, pasti mengeluarkan air mata, apalagi dengan diiringi Seni Kecapi Suling dengan tema kawih (Lagu) khusus tentang kasih sayang orang tua pada anaknya, pasti jadi (Matak rus ras waraas, sok kaimpleng kasawang jaman katukang, mangsa urang aya dipilemburan, sok émut ka Ibu Rama).

Bahkan hal ini merupakan suatu tantangan tersendiri bagi sebuah team penyedia jasa seni siraman jika semua yang hadir dalam acara siraman tersebut tidak minitikan air mata, minimal calon pengantin wanita/pria dan orang tuanya.

Mau bukti? Silahkan lihat video koleksi siraman yang pernah kerjasama dengan Simawar Enterprise, Klik Disini.

Simawar Enterprise Wedding & Event Planner
Konsultasi gratis hub.. 081220150868, 087821160369 (WA)
IG @simawar_bdg

Masih banyak yang ingin saya sampaikan, tapi ngetiknya lama dan mungkin yang membacanyapun kecapean juga. Semoga artikel berikutnya bisa disampaikan tentang tata cara siraman yang dulu pernah dilihat dan didengar dibandingkan dengan Siraman modifikasi (Kamotékaran) menyesuaikan kondisi saat ini.

Semoga bermanfaat, jangan lupa segera koreksi dan luruskan jika saya keliru. terimakasih
Wassalau’alaikum Warrohmatuloh Wabarokatuh.

Previous
« Prev Post

Related Posts

22.45.00